Pancasila adalah satu weltanschauung, satu dasar falsafah

…​

.Pancasila adalah satu weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin-­yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke ha­nyalah dapat bersatu-padu di atas dasar Pancasila itu. Dan bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Re­publik Indonesia, tetapi juga pada hakekatnya satu alat memper­satu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit-­penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu pe­nyakit terutama sekali, Imperialisme.
Perjuangan sesuatu bangsa, perjuangan melawan Imperialisme, perjuangan mencapai kemer­dekaan, perjuangan sesuatu bangsa yang membawa corak sendiri-­sendiri. Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakekatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang ter­wujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam pereko­nomiannya, dalam wataknya, dan lain-lain sebagainya.….


Kursus Presiden Soekarno tentang Pancasila sebagai Dasar Negara di Istana Negara, 26 Mei 1958

Kurat-Maritnya Sistem Birokrasi di Distan Banyuasin Penyebap Utama Turunnya Produksi Padi Sebesar 150.000 TON.

Kurat-Maritnya Sistem Birokrasi di Distan Banyuasin Penyebap Utama Turunnya Produksi Padi Sebesar 150.000 TON.
BANYUASIN,TRIBUNUS.CO.ID – Jika setiap tahun produksi padi kabupaten banyuasin terus mengalami peningkatan mala di tahun 2017 produksi padi banyuasin mengalami penurunan bahkan mencapai 150 ribu ton gabah kering hal ini diyakini dampak dari kurat-maritnya sistem birokrasi di dinas Pertanian (distan) Kabupaten Banyuasin Sum-Sel tersebut, 

Masala tersebut di kabarkan dalam gurun waktu yang relatif singkat Distan Banyuasin suda empat (4) kali gonta-ganti pimpinan alias Kepala Dinas dua diantaranya mengundurkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten, (Pemkab) Banyuasin dengan alasan yang tidak masuk akal ia itu Ir. H. Syamsul Bakhri,dan Ir.Syuhada Adjis Umar.ungkap sala satu toko masyarakat banyuasin Gulu Udin,kemaren rabu (03/04)
Menambah kan lagi, yang saat ini menjabat Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala dinas Pertanian (Kadistan) Banyuasin, Ir. Babul Ibrahim. ini saja dalam satu tahun terahir ini suda dua kali menjabat Plt Kadistan Kabupaten Banyuasin karna mengisi kekosongan Kadistan banyuasin 
Suatu pertanyaan yang besar bagi kita Masyarakat Banyuasin, Pertanian Kabupaten, Banyuasin yang katanya dulu jumlah produksi padi yang terus meningkat setiap tahunnya bahkan mencapai 1 juta 458 ribu ton gabah kering di tahun 2016 saya rasa hasil produk padi yang mencapai 1,458 Juta Ton ini harus di Evalusi Ulang dalam hal ini Pemkab Banyuasin dan Bulog Sumbaksel Apa,kah memang betul betul benar,punggasnya”.

Baca di bagian ini : http://www.tribunus.co.id/2018/03/praperadilan-terdakwa-kasus-korupsi.html?m=1
Dengan adanya penurunan 150.000 ton tersebut Hasil produk padi Kabupaten Banyuasin menjadi 1 juta 305 ribu ton gabah Menurut Herawan Kabid Tanaman pangan dinas pertanian banyuasin jika penurunan akibat kemarau panjang di tahun 2017 sehingga mempengaruhi produksi padi di kabupaten banyuasin, Baca juga di bagian ini: https://www.tribunus.co.id/2018/03/distan-banyuasin-dinilai-tak-bekerja.html?m=1

Lebih lanjut herawan menerangkan jika luas lahan pertanian banyuasin hingga kini mencapai 202 ribu hektar lahan.
Sementara itu Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Banyuasin Sukardi menilai jika penurunan dapat terjadi lantaran permasalahan sarana produksi pertanian atau saprodi seperti bibit dan pupuk yang sering terlambat didapatkan para petani.
Lebih lanjut sukardi juga meminta pemkab banyuasin fokus dalam menanggani persoalan pasca panen/ diantaranya dengan mendirikan BUMD yang fokus menanggani pasca panen petani”.(vltp/rn)

Indonesia Dikepung Sindikat Narkoba Internasional

JAKARTA -Tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), BNN Aceh, BNN Langsa, Lhokseumawe, Pidie dan Bea Cukai Aceh kembali membongkar peredaran narkoba jaringan internasional. Sebanyak delapan bandar berhasil dibekuk dan seorangnya terpaksa ditembak mati karena berusaha melawan saat ditangkap.


Dalam penangkapan itu, BNN menyita 44 Kg narkoba jenis sabu, 58 ribu butir pil ekstasi, mobil Honda CRV, sejumlah handphone dan barang bukti lainnya. Kasus ini diungkap petugas di enam lokasi yang berbeda sejak 28-31 Maret 2018.

Terungkapnya sindikat narkoba internasional ini tentu semakin menguatkan bukti jika jalur peredaran narkoba di Indonesia masih longgar. Baik itu melalui jalur darat, laut dan udara. Khususnya, jalur laut melalui alih muat kapal di perairan di daerah terpencil yang paling rawan.
Baca: Salah Kaprah Perang Narkoba
Tak heran, jika fakta penyalahgunaan narkoba di Indonesia makin marak dan masuk kategori mengerikan. Tak heran pula, jika kemudian Indonesia dijadikan target pasar dan surga bagi gembong narkoba lintas negara. Itu karena Indonesia telah dikepung 72 jaringan pengedar narkoba internasional dari 11 negara sebagai pemasok.
Dari ke-11 negara itu, China terungkap sebagai negara penyuplai terbesar. Peredarannya di Indonesia kini sudah mencapai 80 persen. Sementara wilayah yang dijadikan pintu gerbang adalah Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.
Baca: Narkoba China Makin Ganas Merusak Indonesia
Penyelundupan narkoba bukan hanya sudah merusak generasi bangsa. Tetapi juga sudah merugikan dari segi ekonomi. Narkoba itu sendiri adalah barang impor. Ini berarti devisa Indonesia akan terus tergerus oleh pengguna narkoba.
Maka dari itu, persoalan penyelundupan narkoba tidak boleh hanya dipandang sekadar untuk menyelamatkan para pemakainya yang jumlahnya tiap tahun selalu meningkat. Tetapi saatnya diletakkan dalam perspektif yang lebih luas. Yakni, menyelamatkan uang negara untuk pembangunan, untuk mengentaskan kemiskinan, untuk membangun infrastruktur jalan tol, untuk menggratiskan biaya pendidikan, biaya kesehatan dan lain sebagainya.
Mampukah tugas besar ini dituntaskan Heru Winarko yang telah ditunjuk Presiden Joko Widodo menggantikan posisi Budi Waseso sebagai Kepala BNN yang baru? Patut ditunggu! 

Inalillahi wa ina ilaihi rojiun

بسم الله الرحمن الرحم

بسم الله الرحمن الرحم

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29)


Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba, kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…

Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak

Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom. Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.
Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang jarak satu kilometer itu!
Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda.
Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr al-Qudrah)…

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari huruf hijaiyah ?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber pada nama-nama Allah swt”.

Kemudian Ali berkata :
“Adapun Alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Kokoh,
Adapun Ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
Adapun Ta, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari semua hamba-Nya,
adapun Tsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia”
Adapun Jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya serta suci seluruh nama-nama-Nya.
Adapun Ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.
Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya.
Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,
Dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
Zay artinya hiasan penghambaan.
Sin artinya Maha mendengar dan melihat. 
Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.
Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
Dhad artinya adalah yang memberikan madharat dan manfaat.
Tha artinya Yang suci dan mensucikan,
Dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.
Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua ciptaan-Nya.
Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
Qaf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
Kaf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
Adapun Lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
Mim artinya pemilik semua kerajaan.
Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada cahaya arasynya.
Adapun waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta tidak ada sekutu bagi-Nya.
Adapun ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh makhluk-Nya”. 
Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.
Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.
Kandungan empat unsur alam  semesta dalam huruf hijaiyah, yaitu:
Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.
Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.
30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia yaitu:
1. alif = hidung
2. ba” = mata
3. ta” = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa” = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro” = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho” = hati
17. zho” = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa” = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA” = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya” = mulut/manusia
Affirmasi:

Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah
30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..
Nb.
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian untuk seluruh praktisi QUANTUM TRANCEFORMASI  NAQS DNA. Dan sebenarnya masih banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai ilmu khodam huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar NAQS DNA.
Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding samudera rahasia huruf itu sendiri.
Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita membatasi diri terhadap rahasia & karunia ilmu dari Allah swt.
INILAH BEBERAPA PRINSIP DASAR METHODE NAQS DNA :

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra: 82)
“Katakanlah: ‘(Al-Quran) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur
an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)

Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ
“Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220). 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)

QS. Sad
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap
“Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi”
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَآءً حَيْثُ اَصَابَ 
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya,”

وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَّغَوَّاصٍ 
wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash
“dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,”

وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِيْ الْاَصْفَادِ
wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad
“dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu.”

qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash
wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad

Al-Fatihah
Keagungan Surat Al-Fatihah
Setiap muslim atau muslimah hampir dipastikan kenal bahkan hafal Surat Al-Fatihah. Anak-anak terdidik dari keluarga muslim dari kecil – ketika belajar bicara – biasanya sudah dilatih menghafal Al-Fatihah. Alhasil inilah surat yang paling sering dibaca dan dihafalkan seluruh manusia di muka Bumi sejak turunnya hingga saat ini, bahkan sampai Hari Kiamat nanti.
Al-Fatihah artinya “pembuka” berasal dari kata fatiha-yaftahu yang artinya “membuka sesuatu untuk mencapai kejayaan atau kemenangan”. Sesuai namanya, surat ini merupakan pembukaan dari Kitabullah Alquran yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surat itu. Al-fatihah hanya terdiri dari 7 (tujuh) ayat yang kandungannya merupakan intisari seluruh Alquran. Karena itu dinamakan juga Ummul Quran (induk Alquran) atau Ummul Kitab (induk Al-Kitab). Surat Al-Fatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah adalah surat yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap diantara surat-surat yang ada dalam Alquran dan termasuk golongan surat Makkiyyah.
Keistimewaan Tujuh Ayat yang Dibaca Berulang-ulang
Meskipun hampir semua muslim sering membaca dan hafal Surat Al-Fatihah namun sayangnya ternyata masih banyak Ummat Islam yang tidak paham arti dan kandungan Surat Al-Fatihah yang pendek (riangkas) namun agung dan mulia ini. Padahal dengan memahami kandungannya berbarti juga memahami garis besar ajaran Alquran. Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak paham arti Surat Al-Fatihah karena terjemahan Alquran mudah Kita dapati, demikian juga buku-buku yang membahas surat ini banyak Kita jumpai. Inilah terjemahan Surat Al-Fatihah:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Al-Fatihah: 1-7)
Karena Surat Al-fatihah merupakan induk dari semua isi Alquran, setiap muslim diwajibkan membacanya pada tiap-tiap roka’at shalat. Karenanya dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya tujuh dan dibaca berulang-ulang dalam setiap shalat Kita, baik yang fardhu lima waktu maupun yang sunnah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan tentang hal ini,
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Alquran yang agung. (Al-hijr: 87)
Tentang hubungan Surat Al-Fatihah dengan shalat, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca pembuka Al-Kitab (Surat Al-Fatihah) (HR. Bukhari dan Muslim).
Selanjutnya di dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat yang tidak membaca Ummul Qur’an di dalamnya maka shalatnya pincang -tiga kali- yaitu tidak sempurna.” Maka ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kalau kami sedang berada di belakang imam, bagaimana?” Beliau menjawab, “Bacalah untuk diri kalian sendiri, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Allah ta’ala berfirman : ‘Aku membagi shalat (Al-Fatihah) antara Aku dengan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dia minta.’ Kalau hamba itu membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’, maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Kalau dia membaca, ‘Ar Rahmanirrahim’ maka Allah ta’ala menjawab, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Maliki yaumid din’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku mengagungkan Aku’. Kemudian Allah mengatakan, ‘Hamba-Ku telah pasrah kepada-Ku’. Kalau ia membaca, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ maka Allah menjawab, ‘Inilah bagian untuk-Ku dan bagian untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku pasti akan mendapatkan permintaannya.’. dan kalau dia membaca, ‘Ihdinash shirathal mustaqim, shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin” maka Allah berfirman, ‘Inilah hak hamba-Ku dan dia akan mendapatkan apa yang dimintanya.’.”
Surat Al-Fatihah juga dinamakan dengan “Asy Syifa” yang artinya Penyembuh. Seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah mengobati orang yang sakit tersengat racun dengan Surat ini. Alhamdulillah dengan idzin Allah sembuh. Diriwayatkan dai Abu Said Al-Hudri r.a.: Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi datang pada suatu desa orang Arab dan penduduk desa tersebut tidak menyambutnya, semua mereka sama, ketika itu kepala desa mereka tersengat binatang beracun, mereka bertanya: “Apakah kalian bisa mengobati?” Sahabat menjawab: “Karena kalian tidak menjamu kami, kami bisa mengobati kalian asal ada upahnya”. Maka mereka menjanjikan imbalan kambing. Kemudian sahabat tersebut membacakan Ummul Qur’an (Al-Fatihah), dan ia mengumpulkan ludahnya dan meludahi (luka yang tersengat). Maka pimpinan desa itu sembuh dan memberikan kambing. Para sahabat itu mengatakan: “Kami tidak mengambilnya sebelum bertanya pada Nabi Shollallahu Alaihi Wa Sallam”. Maka kami bertanya pada Nabi dan beliau tertawa. Dan Nabi bersabda: “Kok engkau tahu surah Al-Fatihah bisa untuk penyembuhan, ambilah imbalannya dan berilah aku bagian”.
Ringkasan Kandungan Surat Al-Fatihah
Ayat pertama disebut dengan basmallah, yaitu Bismillahirrahmaanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang). Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah yang bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut nama Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.
Alhamdu lillahi robbil ‘aalamin (segala puji bagi Allah Rabb sekalian alam). Memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatanNya yang baik. Lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. Kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
Rabb (Tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati Yang Memiliki, Mendidik dan Memelihara. Lafal rabb tidak dapat dipakai selain untuk Allah, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah pencipta semua alam-alam itu.
“Hai umat manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian serta orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit menjadi atap, dan Dia lah yang menurunkan air hujan dari langit kemudian berkat air itu Allah menumbuhkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian, maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 21-22)
‘Ar-Rahman Ar-Rahim’ (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) merupakan dua buah nama Allah yang menunjukkan salah satu sifat Allah yaitu rahmah (kasih sayang). Ar Rahman termasuk kategori nama Allah yang hanya boleh dipakai untuk menyebut Allah. Sedangkan nama Ar Rahim telah disebutkan di dalam al-Qur’an pemakaiannya boleh untuk menyebut selain-Nya sesuai keterangan Alquran tentang sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, terasa berat olehnya apa yang menyulitkan kalian, dan dia sangat bersemangat untuk memberikan kebaikan bagi kalian, dan dia sangat lembut dan menyayangi orang-orang yang beriman.” (QS. At Taubah: 128)

Ibnu Katsir mengungkapkan tatkala menjelaskan tafsir basmalah di awal surat Al-Fatihah, “Kesimpulan yang dapat dipetik adalah sebagian nama Allah ta’ala ada yang bisa dipakai untuk menamai selain-Nya, dan ada yang hanya boleh dipakai untuk menamai diri-Nya -seperti nama Allah, Ar Rahman, Al Khaliq, Ar Raziq dan sebagainya- .”
‘Maliki yaumid din’ (Raja yang Menguasai Hari Pembalasan) menunjukkan kewajiban beriman pada tauhid mulkiyah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah rabb segala sesuatu dan Penguasa atau Rajanya. Seluruh kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang berada di antara keduanya adalah milik-Nya. Dia lah Raja yang menguasai dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,
“Milik Allah kerajaan langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalamnya, dan Dia Maha menguasai segala sesuatu.” (Al Ma’idah: 120).
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Mulk: 1).
“Katakanlah; Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, Dia yang melindungi dan tiada yang dapat terlindungi dari siksa-Nya, jika kalian benar-benar mengetahui? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Katakanlah; Lantas dari sisi manakah kalian tertipu.” (QS. Al Mu’minun: 88-89)
Beriman kepada Tauhidullah (keesaan Allah) terdapat dalam empat ayat Al-Fatihah, dimana dinyatakan dengan tegas bahwa segala puji dan ucapan syukur atas suatu nikmat itu bagi Allah, karena Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat dalam alam ini. Diantara nikmat itu ialah : nikmat menciptakan, nikmat mendidik dan menumbuhkan, sebab kata Rabb dalam kalimat Rabbul-‘aalamiin tidak hanya berarti Pencipta Alam semesta, tetapi juga mengandung arti tarbiyah yaitu mendidik, mengatur, menata dan menumbuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa segala nikmat yang dilihat oleh seseorang dalam dirinya sendiri dan dalam segala alam ini bersumber dari Allah, karena Dia-lah Yang Maha Berkuasa di alam ini. Pendidikan, penjagaan dan penumbuhan oleh Allah di alam ini haruslah diperhatikan dan dipikirkan oleh manusia sedalam-dalamnya, sehingga menjadi sumber pelbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat menambah keyakinan manusia kepada keagungan dan kemuliaan Allah, serta berguna bagi masyarakat.
Al-fatihah mengokohkan kepercayaan pada hari Akhirat, hari pembalasan di saat manusia mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya. Yang dimaksud dengan Raja Yang Menguasai Hari Pembalasan ialah pada hari itu Allah-lah yang berkuasa, segala sesuatu tunduk kepada kebesaran-Nya sambil mengharap nikmat dan takut kepada siksaan-Nya. Hal ini mengandung arti janji untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan ancaman terhadap perbuatan yang buruk.
Oleh karena keimanan (ketauhidan) itu merupakan masalah yang pokok, maka didalam surat Al-Fatihah tidak cukup dinyatakan dengan isyarat saja, tetapi ditegaskan dan dilengkapi oleh ayat 5, yaitu : Iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin (hanya Engkau-lah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan). Inilah tawhidul Ibadat yaitu penghambaan, pengabdian, dan ketundukan yang semata-mata ditujukan kepada Allah. Na’budu diambil dari kata abida-ya’budu ibadah yaitu kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan olehketundukan hati dan perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Ilah yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Surat yang agung ini juga mendidik Kita untuk berdoa kepada Allah. Berdoa wajib dimulai dengan menyanjung Allah dengan segala sifat kemuliaannya, mengagungkan Nama-nama-Nya kemudian menyatakan kesiapan untuk bertawhid dalam ibadah dan mengakui Allah sebagai tempat meminta. Sebaik-baik doa adalah memohon petunjuk bimbingan Allah kepada jalan yang lurus yaitu Jalan kebahagiaan dan bagaimana seharusnya menempuh jalan itu untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Maksud “Hidayah” disini ialah hidayah yang menjadi sebab dapatnya keselamatan, kebahagiaan dunia dan akhirat, baik yang mengenai kepercayaan maupun akhlak, hukum-hukum dan pelajaran lain dari ilmu Allah yang terdapat di dalam Alquran. Allah berfirman,
Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Al Israa: 17)
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (As-syuraa:52)
Kalimat, “Ihdinash shirathal musataqiim” (Tunjukilah Kami ke jalan yang lurus) menjadi permintaan utama setiap muslim kepada Rabbnya. Permintaan yang tidak egois karena bukan untuk diri sendiri tetapi untuk jamatul muslimiin yaitu Ummat Islam secara keseluruhan. Memohon yang terbaik dalam kehidupan adalah memohon ni’mat hidayah yang nilainya jauh melebihi kebutuhan dan keinginan lainnya di muka Bumi.. Tidak ada yang lebih nutama dari petunjuk hidup, sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kepada sahabat Ali bin Abi Tholib, “Dan seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab engkau, maka itu lebih baik bagimmu daripada Dunia dan segala isinya” (HR. Muslim)
Alquran menjelaskan yang dimaksud Shirotol Mustaqim dengan ayat berikutnya yaitu “Shirathalladzinaa an’aamta alayhim” (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka). Yang dimaksud dengan orang yang diberi nikmat dalam ayat ini, ialah para Nabi, para shiddieqiin (orang-orang yang sungguh-sungguh beriman), syuhadaa’ (orang-orang yang mati syahid), shaalihiin (orang-orang yang saleh) sebagaimana disebutkan di dalam Alquran
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa:69)
Kemudian ditegaskan pula bahwa jalan tersebut “groiril maghduubi alayhim waladh-dhooliiin”. (Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat). Maksudnya ialah bukan golongan mereka yang tidak memperoleh cahaya petunjuk dan berjalan dalam kebodohan terhadap kebenaran Allah, Rasul, dan ajaran Islam. Siapa saja mereka yang sesat dan rang-orang yang dimurkai Allah disebutkan oleh Alquran secdara jelas. Di dalam tafsir Ibnu Abbas disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Al yahuudu maghduubun ‘alayhim wan nashoro dhooluun” (Orang-orang yahudi dimurkai Allah kelakuannya sedangkan orang-orang Nasrani tersesat)
Yahudi dengan perilakunya adalah contoh mereka yang dilaknati dan dimurkai Allah sepanjang sejarah manusia.. disebabkan kejahatan mereka terhadap dakwah sejak zaman Nabi Musa Alaihis Salaam hingga zaman Kita sekarang ini… Sedangkan kaum Nasrani sering membuat-buat kedustaan terhadap Allah, akibatnya keimanan mereka kepada Allah kacau balau dan campur aduk dengan kebatilan… Alquran berulangkali menceritakan kisah para Nabi dan kisah orang-orang dahulu lainnya yang menentang Allah. Mereka ada yang sesat dan ada pula yang dimurkai Allah… Kisah-kisah itu dimaksudkan sebagai pelajaran yang penting bagi Kaum Muslimin dan menjadi pedoman mereka sepanjang hayat.
Karena menjadi induk Alquran maka kandungan Surat Al-Fatihah sangat luas bagaikan samudra yang tidak bertepi. Apa yang Kita ringkas ini hanyalah setetes saja dari keluasan ilmu Allah di dalam Surat yang agung ini. Wallahu a’lam (usb/dakwatuna)Al-Fatihah

d\J}\ jyjty OLJ^I h\jJt

Tafsir Al Qur f an
Hidayatul Insan
Jilid 1
(Dari surah Al Fatihah s.d surah Al An’aam)
Disusun oleh:
Abu Yahya Marwan bin Musa
(semoga Allah mengampuninya, mengampuni kedua orang tuanya dan kaum
muslimin semua, Allahumma amin)
Abu Yahya Marwan bin Musa

1
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

Tafsir Isti’adzah
Sebelum membaca Al Qur’an, kita diperintahkan membaca isti’adzah, yaitu ucapan:
*-Z>rJ\ jUaljJl ^j» Aillj 3>jPl

Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
(d&^-^.pl j’U^a.H 1^ aJoL Juxl.li o\7jd\ olj» lili
“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
setan yang terkutuk ” (An Nahl: 98)
Maksudnya apabila kamu hendak membaca Al Qur’an. Hal ini seperti pada ayat “Idzaa qumtum
ilash shalaah…dst. (Al Maa’idah: 6), maksudnya apabila kamu hendak mendirikan shalat. Adapun
dalil dalam hadits yang menunjukkan demikian salah satunya adalah hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudriy ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila
bangun malam, memulai shalatnya dan bertakbir, lalu mengucapkan:

ii^Ip iJl Lij i}!*- *lL»

“Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Mahasuci nama-Mu, Mahatinggi
keagungan-Mu, dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. ”

Selanjutnya Beliau mengucapkan, “Laailaahaillallah.” Sebanyak tiga kali. Lalu mengucapkan:
o o ‘ ‘ & ° fij * “* fl c

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang
terkutuk; dari cekiknya, kesombongan, dan syairnya.” (Diriwayatkan pula oleh pemilik kitab sunan
yang empat. Tirmidzi berkata, “Ia merupakan hadits paling masyhur dalam bab ini.”)

Al Hamz dalam hadits tersebut adalah mautah, yakni cekiknya, nafkh adalah kesombongannya,
sedangkan nafts adalah syairnya.

Jumhur ulama berpendapat bahwa isti’adzah hukumnya sunat; tidak wajib. Ar Raaziy menukilkan
dari ‘Athaa’ bin Abi Rabaah bahwa isti’adzah wajib dibaca dalam shalat dan di luar shalat setiap
hendak membaca Al Qur’an. Ar Raaziy berhujjah untuk ‘Atha’ dengan zhahir ayat, “Fasta’idz, ”
dimana ia merupakan perintah yang zhahirnya adalah wajib, dan lagi karena Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam selalu merutinkannya, ia juga dapat menolak kejahatan setan, sedangkan suatu kewajiban
jika tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu yang menyempurnakan itu menjadi wajib. Di
samping itu, membaca isti’adzah itu lebih hati-hati.

Ucapan, “A ‘uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim,” dianggap cukup dalam beristi’adzah.

Abu Yahya Marwan bin Musa

2
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

Di antara rahasia isti’adzah adalah membersihkan mulut yang sebelumnya dipenuhi laghw (ucapan
sia-sia) dan rafts (ucapan kotor), membuat mulut menjadi baik untuk membaca firman Allah.
Isti’adzah juga merupakan permintaan pertolongan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mengakui
kekuasaan-Nya dan menyadari keadaan dirinya yang lemah untuk melawan musuh yang nyata yaitu
setan, dimana untuk menghadapinya hanya dengan pertolongan Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja.

Makna “A’udzu billahi minasy syaithaanir rajiim” adalah aku berlindung kepada Allah dari setan
yang terkutuk agar dia (setan) tidak membahayakanku baik pada agamaku, duniaku atau
menghalangiku dari mengerjakan perkara yang diperintahkan kepadaku, demikian pula agar dia
tidak mendorongku untuk mengerjakan perkara yang dilarang.

Setan dalam bahasa Arab berasal dari kata “syathana” yang artinya jauh, sehingga setan itu artinya
jauh dengan tabiatnya dari tabiat wajar manusia dan jauh dengan kefasikannya dari setiap kebaikan.
Ada pula yang berpendapat, bahwa ia berasal dari kata syaatha (terbakar), karena ia dicipta dari api.
Ada yang berpendapat, bahwa keduanya benar, namun pendapat pertama lebih shahih.

Sibawaih berkata, “Orang-orang Arab mengatakan, “Tasyaithana fulaan” apabila orang tersebut
melakukan perbuatan setan. Kalau setan berasal dari kata syaatha, tentu mereka mengatakan
“Tasyayyatha.”

Dengan demikian setan menurut pendapat yang shahih berasal dari kata syathana yang berarti jauh.
Oleh karena itulah, mereka menyebut setiap yang durhaka dari kalangan jin, manusia maupun
hewan dengan sebutan “setan.”

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

J^aJl iJJ>-j (j^«-> (JJ * $¥ >» > (j-jJ O^’j U^V 1? ‘j” ‘j-^ Isi J^S Ld*>- liiJ’JSj

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia
dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan
yang indah-indah untuk menipu (manusia). ” (Al An’aam: 112)

Adapun hewan bisa disebut setan adalah seperti pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Akan memuluskan shalat, yaitu wanita, keledai dan anjing hitam.” Maka Abu Dzar berkata,
“Wahai Rasulullah. Mengapa anjing hitam tidak (anjing) merah atau kuning?” Beliau menjawab,
“Anjing hitam adalah setan.” (HR. Muslim)

Adapun “Rajiim” artinya marjuum, yaitu yang dirajam dan diusir dari kebaikan. Keadaannya yang
dirajam adalah seperti diterangkan dalam surat Ash Shaaffaat ayat 8:

“Setan-setan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari
dari segala penjuru. ”

Ada pula yang berpendapat, bahwa rajini artinya raajim (yang melempar), karena ia melemparkan
was-was dan tipuan kepada manusia, namun pendapat pertama lebih masyhur dan lebih shahih.

Abu Yahya Marwan bin Musa

3
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

Juz 1
Surat Al Fatihah (pembuka) 1

Surah ke-I. Terdiri dari 7 ayat. Makkiyyah

1-7: Surah ini mencakup semua makna/kandungan dalam Al Qur’an dan mengandung

maksud-maksud Al Qur’an yang asasi (dasar) secara garis besar. Oleh karena itulah

dinamakan Ummul Kitab yang artinya induk Al Qur’an

  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 2 .

1 Surat Al Faatihah (Pembukaan) yang diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat ini adalah surat yang
pertama diturunkan secara lengkap di antara surat-surat yang ada dalam Al Quran, ia termasuk golongan
surat Makkiyyah. Surat ini disebut Al Faatihah (Pembukaan), karena dengan surat inilah dibuka dan
dimulainya Al Quran. Allah subhaanahu wa Ta’ala memulai kitab-Nya dengan surat ini, karena surat ini
menghimpun tujuan dan maksud Al Qur’an. Oleh karena itu, surat ini dinamakan Ummul Quran (induk Al
Quran) atau Ummul Kitaab (induk Al Kitab) karena dia merupakan induk dari semua isi Al Quran. Oleh
karena itu, diwajibkan membacanya pada setiap shalat. Al Hasan Al Basri berkata, “Sesungguhnya Allah
menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam kitab-kitab terdahulu di dalam Al Qur’an, kemudian Dia menyimpan
ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’an di dalam surat Al Mufashshal (surat-surat yang agak pendek), dan Dia
menyimpan ilmu-ilmu yang ada dalam surat Al Mufashshal di dalam surat Al Fatihah. Oleh karena itu,
barang siapa yang mengetahui tafsirnya, maka ia seperti mengetahui tafsir semua kitab-kitab yang
diturunkan. ” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman). Mencakupnya isi surat Al Fatihah terhadap
semua ilmu yang ada di dalam Al Qur’an ditunjukkan oleh Az Zamakhsyari, yaitu karena di dalam Al
Fatihah terdapat pujian bagi Allah yang sesuai, terdapat peribadatan kepada-Nya, terdapat perintah dan
larangan serta terdapat janji dan ancaman, sedangkan ayat-ayat Al Qur’an tidak lepas dari semua ini. Dengan
demikian, semua isi Al Qur’an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah yang yang disebutkan
secara garis besar dalam surat Al Fatihah.

Surat ini dinamakan pula As Sab’ul matsaany (tujuh yang berulang-ulang) karena ayatnya ada tujuh dan
dibaca berulang-ulang dalam shalat. Tentang keutamaan surat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

{ ijdUJl <_Jj jvaJl bjUhl

  1. Tunjukkanlah kami 10 jalan yang lurus,

7 Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan
amalannya baik atau buruk. Yaumiddin disebut juga yaumul qiyaamah, yaumul hisaab, yaumul jazaa’ dan
sebagainya. Dibacanya ayat ini oleh seorang muslim dalam setiap shalat untuk mengingatkannya kepada hari
akhir; hari di mana amalan diberikan balasan. Demikian juga mendorong seorang muslim untuk beramal
shalih dan menghindari kemaksiatan.

8 Na’budu diambil dari kata ‘ibaadah yang artinya kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh
perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena keyakinan bahwa Allah
mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya disertai rasa cinta dan berharap kepada-Nya. Ditambahkan
rasa cinta, karena landasan yang harus ada pada seseorang ketika beribadah itu ada tiga: rasa cinta kepada
Allah Ta’ala, rasa takut dan tunduk kepada Allah Ta’ala dan rasa berharap. Oleh karena itu, kecintaan saja
yang tidak disertai dengan rasa takut dan kepatuhan, seperti cinta terhadap makanan dan harta, tidaklah
termasuk ibadah. Demikian pula rasa takut saja tanpa disertai dengan cinta, seperti takut kepada binatang
buas, maka itu tidak termasuk ibadah. Tetapi jika suatu perbuatan di dalamnya menyatu rasa takut dan cinta
maka itulah ibadah. Dan tidaklah ibadah itu ditujukan kecuali kepada Allah Ta’ala semata.

Dalam ayat ini terdapat dalil tidak bolehnya mengarahkan satu pun ibadah (seperti berdo’a, ruku’, sujud,
thawaf, istighatsah/meminta pertolongan), berkurban dan bertawakkal) kepada selain Allah Ta’ala.

9 Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat
menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. Dalam ayat ini terdapat
obat terhadap penyakit ketergantungan kepada selain Allah Ta’ala, demikian juga obat terhadap penyakit
riya’, ‘ujub (bangga diri) dan sombong. Disebutkannya isti’anah kepada Allah Ta’ala setelah ibadah
memberikan pengertian bahwa seseorang tidak dapat menjalankan ibadah secara sempurna kecuali dengan
pertolongan Allah Ta’ala dan menyerahkan diri kepada-Nya. Ayat ini menunjukkan lemahnya manusia
mengurus dirinya sendiri sehingga diperintahkannya untuk meminta pertolongan kepada-Nya Berdasarkan
ayat ini juga bahwa beribadah dan meminta pertolongan kepada-Nya merupakan sarana memperoleh
kebahagiaan yang kekal dan terhindar dari keburukan. Perbuatan dikatakan ibadah jika diambil dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diniatkan ikhlas karena Allah Ta’ala.

Perlu diketahui bahwa isti’anah (meminta pertolongan) terbagi dua:

  • Isti’anah tafwidh, meminta pertolongan dengan menampakkan kehinaan, pasrah dan sikap harap, ini
    hanya boleh kepada Allah saja, syirk hukumnya bila mengarahkan kepada selain Allah.
  • Isti’anah musyarakah, meminta pertolongan dalam arti meminta keikut-sertaan orang lain untuk turut
    membantu, maka tidak mengapa kepada makhluk, namun dengan syarat dalam hal yang mereka mampu
    membantunya.

10 Ihdina (tunjukkanlah kami), dari kata hidayaat yang artinya memberi petunjuk ke suatu jalan yang lurus
(irsyad). Yang dimaksud di ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja (yakni tidak hanya hidayah irsyad),
tetapi juga meminta diberi taufik (dibantu menempuh jalan yang lurus). Oleh karenanya kata ihdinaa
langsung dilanjutkan dengan shiraathal mustaqiim, tidak dipisah dengan kata “ilaa” (ke) yang berarti

“tunjukkanlah kami ke ” karena ia meminta dua hidayah (irsyad dan taufiq). Oleh karena itu, arti ayat ini

adalah “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus dan bantulah kami menempuh jalan itu serta teguhkanlah kami
di atasnya sampai kami berjumpa dengan-Mu” . Jalan yang lurus itu adalah Islam; sebagai jalan yang dapat
mengarah kepada keridhaan Allah dan surga-Nya, jalan yang telah diterangkan oleh Rasul -Nya Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali dengan istiqamah di atasnya.
Dengan demikian, di ayat ini kita juga meminta kepada Allah Ta’ala agar dapat istiqamah di atas jalan yang
lurus itu sampai akhir hayat mengingat hati yang lemah mudah berbalik dan karena hidup di dunia penuh

Abu Yahya Marwan bin Musa

6
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

  1. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
    mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 11

dengan liku-liku, penuh dengan gelombang cobaan dan fitnah yang begitu dahsyat yang dapat
menghanyutkan seorang mukmin. Sungguh berbahagialah orang yang tetap mendirikan shalat karena do’a
yang dipanjatkannya ini, berbeda dengan orang yang meninggalkan shalat; yang tidak lagi memanjatkan do’a
ini sehingga mudah sekali ia terbawa oleh arus fitnah itu yang membuat dirinya binasa -wal ‘iyaadz billah-.

11 Orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah adalah para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-
orang shalih berdasarkan surat An Nisaa’: 69, jalan merekalah yang kita minta. Merekalah ahlul hidayah wal
istiqamah (orang-orang yang memperoleh hidayah dan dapat beristiqamah), ciri jalan mereka adalah setelah
mengetahui yang hak (benar), mereka mengamalkannya (belajar dan beramal).

Adapun orang-orang yang dimurkai (baik oleh Allah maupun oleh kaum mukminin) adalah orang-orang
yahudi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka. Ciri jalan mereka adalah setelah mengetahui yang
hak, mereka tidak mau mengamalkan sehingga mereka dimurkai (belajar dan tidak beramal).

Sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang Nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan
mereka. Ciri jalan mereka adalah tidak mengenal yang hak sehingga mereka tersesat (beramal tanpa belajar).

Di dalam ayat ini terdapat obat penyakit juhud (membangkang), jahl (kebodohan) dan dhalaal (tersesat).

Dianjurkan setelah membaca ayat ini di dalam shalat mengucapkan “aamiiiiiin” yang artinya “Ya Allah,
kabulkanlah”, ia tidaklah termasuk ayat dari surat Al Fatihah berdasarkan kesepakatan para ulama, oleh
karena itu mereka tidak menuliskannya di dalam mushaf-mushaf.

Kandungan surat Al Fatihah

Surat Al Fatihah meskipun singkat, namun mengandung banyak pengetahuan. Di dalamnya terdapat tiga
tauhid yang diperintahkan; tauhid rububiyyah (dari ayat “rabbil ‘aalmiin”), tauhid uluhiyyah (dari ayat
“iyyaaka na’budu”) dan tauhid asmaa’ wash shifat dengan menetapkan semua sifat sempurna bagi Allah yang
telah ditetapkan oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana ditunjukkan
oleh ayat “Al Hamdulillah”, karena nama-nama dan sifat-sifat Allah semuanya terpuji dan merupakan pujian
bagi Allah Ta’ala.

Demikian juga menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diambil
dari ayat “Ihdinash shiraathal mustaqiim”, karena jalan yang lurus tersebut adalah jalan yang diterangkan
oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Surat ini juga menetapkan adanya jazaa’ (pembalasan
amal) dan bahwa hal itu dilakukan dengan adil berdasarkan ayat “Maaliki yaumiddiin”. Surat ini juga
menguatkan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah tentang masalah qadar, yakni bahwa semua terjadi dengan
qadar Allah dan qadhaa’-Nya, dan bahwa seorang hamba melakukan perbuatannya secara hakikat; tidak
dipaksa dalam berbuat. Hal ini dapat diketahui dari ayat “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”. Surat ini
juga menerangkan pokok kebaikan, yaitu ikhlas, sebagaimana diambil dari ayat ” Iyyaaka na’budu wa
iyyaaka nasta’iin”.

Karena surat ini begitu agung dan mulia, Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya membacanya di setiap rak’at
dalam shalat mereka baik shalat fardhu maupun sunat. Di surat tersebut Allah mengajarkan kepada hamba-
hamba-Nya bagaimana mereka memuji dan menyanjung-Nya, lalu mereka meminta kepada Tuhan mereka
segala yang mereka butuhkan. Di surat ini pun terdapat bukti butuhnya mereka kepada Tuhan mereka, baik
butuhnya hati mereka dipenuhi rasa cinta dan pengenalan kepada-Nya dan butuhnya mereka agar dibantu
dalam menyelesaikan urusan mereka serta diberi taufiq agar dapat mengabdi kepada-Nya.

Contoh ayat-ayat yang menerangkan lebih lanjut surat Al Fatihah

Sebagaimana diterangkan bahwa semua isi Al Qur’an merupakan penjelasan lebih rinci terhadap masalah
yang yang disebutkan secara garis besar dalam surat Al Fatihah. Berikut ini contohnya:

Firman Allah, “Al hamdulillahi. ” diterangkan oleh surat Al Baqarah: 186 dan 286.
Abu Yahya Marwan bin Musa

7
www. tafsir, web.id

Tafsir Hidayatul Insan Jilid 1

Surat Al Baqarah (Sapi Betina) 12

Surah ke-2. Terdiri dari 286 ayat. Madaniyyah

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

H>-jfi

Ayat 1-5: Golongan mukmin, membicarakan tentang sifat orang-orang yang bertakwa,
hakikat iman dan bagaimana Al Qur’an menjadi petunjuk bagi mereka

Firman Allah, “Rabbil ‘aalamiin” diterangkan oleh surat Al Baqarah: 21-22 dan 29.

Firman Allah, “Ar Rahmaanir rahiim” diterangkan oleh surat Al Baqarah: 37 dan 126

Firman Allah, “Maaliki yaumiddin.” diterangkan oleh surat Al Baqarah: 284.

Firman Allah, “Iyyaaka na’budu.” diterangkan oleh surat Al Baqarah secara lebih rinci, di mana di sana
diterangkan masalah bersuci, shalat lima waktu, shalat jama’ah, shalat khauf, shalat Ied, zakat, puasa, I’tikaf,
sedekah, umrah dan haji, mu’amalah secara Islam, warisan, wasiat, berbagai masalah pernikahan, penyusuan
anak, nafkah, tentang hukum qishas, diyat, memerangi pemberontak dan orang yang murtad, tentang bjihad,
tentang makanan, sembelihan, sumpah, nadzar, peradilan (qadhaa’), persaksian, memerdekakan budak dsb.
semua ini merupakan bab-bab syari’at yang diterangkan dalam surat Al Baqarah.

Firman Allah, “Wa iyyaka nasta’iin” mewakili ilmu tentang akhlak.

Firman Allah, “Ihdinash shiraathal mustaqiim” diterangkan dalam surat-surat setelannya yang menyebutkan
jalannya para nabi dan jalan orang-orang yang menyelisihinya. wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

12 Surat Al Baqarah yang 286 ayat ini turun di Madinah, sebagian besar diturunkan pada permulaan tahun
Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa’ (haji Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah termasuk golongan Madaniyyah, sebagai surat
yang terpanjang di antara surat-surat Al Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpancang (ayat
282). Surat ini dinamai Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang
diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di sana dijelaskan watak orang-orang
Yahudi pada umumnya.

Al-‘Adad, al-Ma’dud

لجو زع هللا دجم ميملاو .لجو زع هللا ءانس نيسلاو .لجو زع هللا ءاهب ءابلا 18 اهلك ءامس�لا ىوح يذلا مظع�لا مس�لا وه :هللاو «

bā’ adalah [singkatan dari] bahā’ullāh ‘azza wa jalla (keindahan Allah Azza wa Jalla), sīn adalah [singkatan dari] sanā’ullāh ‘azza wa jalla (keagungan Allah Azza wa Jalla), mīm adalah [singkatan dari] majdullāh ‘azza wa jalla (kemuliaan Allah Azza wa Jalla), dan Allāh adalah al-ism al-a‘zhām (nama yang paling agung) yang terkandung dalam semua nama-Nya

Ta’wi>l Terhadap Ayat Al-Qur’an Menurut Al-Tustari> 227
 ﯘﯗ ﯖ ﯕ ﯔﯓ ﮱ ﮰ ﮯ ﮮ ﮭﮬ ﮫ ﮪ ﮩ ﯦ ﯥ ﯤ ﯣ ﯢ ﯡ ﯠ ﯟ ﯞ ﯝ ﯜ ﯛ ﯚ ﯙ ﯸ ﯷﯶ ﯵ ﯴ ﯳ ﯲ ﯱﯰ ﯯ ﯮ ﯭﯬ ﯫ ﯪ ﯩ ﯨ ﯧ ﰁ ﰀ ﯿ ﯾ ﯽ ﯼﯻ ﯺ ﯹ 
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”19

35 sebagaimana termuat dalam Tafsir al-Tustarī
 لثم ،راون�لاب ضر�لاو تاوامسلا نيزم ينعي ضر�لاو تاوامسلا رون هللا :ىلاعت هلوق نسحلا لاق .ملسو هيلع هللا ىلص دمحم رون لثم ينعي حابصم اهيف ةاكشمك هرون مهيلع هللا تاولص ءايبن�لا بولق ن�ل ،ديحوتلا ءايضو نمؤملا بلق كلذب ىنع :يرصبلا حابصملا ،حابصم نارقلا رون لثم رونلا :لاقو ،راون�لا هذه لثمب فصوت نا نم رونا دادزا املكف .لاصت�لا رون هرونو صالخ�لا هنهدو ضئارفلا هتليتفو ةفرعملا هجارس
 19 Terjemahan ini, penulis kutip dari Al-Qur’an dan Terjemahnya terbitan Departemen Agama RI yang sudah berbentuk software dalam Al-Qur’an Digital. Disana terdapat catatan kaki yang menjelaskan arti “misykat” (lubang yang tidak tembus) ialah “suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus sampai ke sebelahnya, biasanya digunakan untuk tempat lampu, atau barang-barang lain”, dan kata “la> syarqiyyah wa la> gharbiyyah” (tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat) dengan arti “pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari baik di waktu matahari terbit maupun di waktu matahari akan terbenam, sehingga pohonnya subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik
  حابصملا دادزا ةقيقح ضئارفلا دادزا املكو ،ءايض حابصملا دادزا ،ءافص صالخ�لا 20.ارون 
Perumpamaan cahaya al-Qur’an, kata al-Tustari>, adalah sebuah lampu (Mis}bāh), lampu yang menerangi pengetahuan, yang sumbunya adalah kewajiban agama, yang minyaknya adalah keikhlasan dan yang cahayanya adalah cahaya pencapaian (spiritual). Setiap kali keikhlasan itu bertambah dalam kemurnian, maka bertambahlah sinar cerah lampu itu, dan setiap kali kewajiban agama bertambah, maka pada hakikatnya lampu itu bertambah cahayanya. Tustari> menakwilkan kata “nūr” itu sebagai “Nu>r Muhammad saw”, yakni Allah swt menghiasi langit dan bumi dengan cahaya (nur), dan cahaya itu bagaikan cahaya (nur) Nabi Muhammad saw. Ayat cahaya tersebut yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW.,pertama kali dikenalkan oleh ahli teolog Muqatil pada abad ke enam masehi. Ayat diatas oleh Muqatil dihubungkan dengan Nabi Muhammad saw. Kata Mis}bāh (lampu) itu dianggap sebagai lambang yang tepat bagi Muhammad. Melalui Muhammad, cahaya Ilahi dapat menyinari dunia. Melalui Muhammad juga umat manusia dituntun menuju sumber cahaya itu. Kata “tidak dari timur dan dari barat” mengacu kepada tugas kerasulan Nabi Muhammad SAW.,yang memberikan kasih sayang untuk segenap alam (rahmatan lil-‘ālamīn). Sahl al-Tustari> mengambil ide Muqattil itu yang mengatakan adanya ”lajur cahaya”, yaitu sejenis timbunan yang terdiri dari segenap jiwa-jiwa yang suci. Berdasarkan teori Muqattil di atas, esensi Muhammad menurut Tustari>, disebut ‘amūd alnūr’ (tiang cahaya), yakni jasad halus dari keyakinan yang diemanasi dari Tuhan sendiri yang membungkuk kepada-Nya selama satu juta tahun sebelum diciptakan-Nya makhluk-makhluk. 20Ibid., 138; Al-Tustari>, Tafsi>r al-Tustari>, Muhaqqiq:Thaha Abdurrazzaq Sa’ad dan Sa’ad Hasan Muhammad ‘Ali, 206; Al- Tustari>,Tafsi>r al-Tustari>, Muhaqiq: Muhammad Basil ‘Ayun al-Suud, 111

Ta’wi>l Terhadap Ayat Al-Qur’an Menurut Al-Tustari> 229 Selanjutnya Tustari> mengatakan: “Allah dalam keesaanNya yang mutlak dan realitas transenden-Nya ditegaskan sebagai misteri yang tak tertembus dari cahaya illahi yang bagaimana pun juga, mengungkapkan dirinya sendiri dalam praktek perwujudan prakeabadian dari “persamaan cahaya-Nya”(matsalu nūrihī), yaitu persamaan cahaya Muhammad (Nur Muhammad) dalam prakeabadian dilukiskan seba gai suatu masa bercahaya dari pemuliaan primordial di haribaan Allah yang mengambil bentuk suatu tiang tembus cahaya, tiang cahaya Illahi dan membentuk Muhammad sebagai ciptaan utama Allah.” Dalam menjelaskan terminologi ayat cahaya tersebut, Tustari> mengatakan bahwa ketika Allah berkehendak menciptakan Muhammad, Dia memunculkan sebuah cahaya dari cahayaNya. Ketika ia mencapai selubung keagungan hijābul-’aẓāmah, Ia membungkuk dan bersujud di hadapan Allah. Allah menciptakan dari sujudnya itu sebuah tiang yang besar bagaikan kaca kristal dari cahaya yang dari luar maupun dalam yang dapat tembus pandang” Tustari> mengaitkan cahaya Muham mad yang ia ta’wi>l kan dari kata “nur” dalam Surat An-Nur ayat 35 dengan Surat An-’Najm ayat 13 yang berbunyi : “Walaqad ra’āhu nazlatan ukhrā” artinya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain” . Kata ”pada waktu yang lain” ditafsirkan Tustari> dengan ketika tiang cahaya Muhammad berdiri di hadapan Allah. Di dalam Hikayat Nur Muhammad diceritakan tentang Nur Muhammad disuruh bersujud selama lima puluh tahun di hadapan Allah. Dije laskan bahwa sebelum dimulai penciptaan selama sejuta tahun Nur Muhammad itu berdiri di hadapan-Nya untuk memujiNya dengan keteguhan iman dan (kepadanya) diungkapkan misteri oleh “misteri” itu sendiri di pohon Sidratil-Muntahā (QS, 53:14) yaitu tempat berakhirnya pengetahuan setiap orang .21 Pada awal penciptaan manusia, Allah menciptakan Adam dari cahaya Muhammad. Cahaya para nabi, cahaya kerajaan langit, cahaya malakut adalah dari cahayanya. Begitu juga cahaya dunia dan dunia yang akan datang berasal dari cahayanya
Akhirnya, ketika kemunculan para nabi dalam alam raya spiritual di dalam prakeabadian telah sempurna, Muhammad dibentuk tubuhnya dalam bentuk temporal dan terestrial, dari lempung Adam, yang telah diambil dari tiang Nur Muhammad dalam prakeabadian. Dengan demikian, penciptaan cahaya prakeabadian telah disempurnakan. Manusia pertama dicetak dari cahaya Muhammad yang telah terkristal dan mengambil sosok pribadi Adam. Ide tentang Nur Muhammad tersebut selanjutnya ditangkap dan dikembangkan oleh Al Hallaj, dan konsep al Hallaj tentang Nur Muhammad selanjutnya diteruskan oleh Ibnu Araby dengan konsep wahdatul wujūd-nya dan dilanjutkan oleh Abdul Karim Al Jilli dalam Insānul kāmil

D.2. Q.S. al-Baqarah ayat 22 Pemahaman makna batiniah oleh Sahl al-Tustari> terdapat dalam firman Allah Swt pada surat al-Baqarah ayat 22 tentang penafsiran atau pen ta’wi>l an kata : ﯠ ﯟ ﯞ ﯝ ﯜ ﯛ “Maka itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” Sahl Al-Tustari> menta’wi>l kan kata andād (sekutu-sekutu) dengan ad}dād (lawan-lawan). Lawan terbesar adalah al-nafsu alammārah bi al-sū’ (nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan) yang selalu berambisi untuk mendapatkan kesenangannya tanpa petunjuk Allah Swt.22 Dalam hal ini, pendapat al-Tustari> ini menunjukkan bahwa nafsu ammârah termasuk sekutu, sehingga kalau diperinci ta’wi>l terhadap ayat tersebut adalah, “Maka janganlah menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu, berhala, setan, nafsu, … (dan seterusnya).” Dari aspek lahiriah kata dalam ayat ini, mungkin merupakan satu kesulitan, karena konteks ayat itu dan indikasi-indikasi yang melingkupinya menunjukkan bahwa yang dimaksud sekutu-sekutu (andād) itu adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, baik berupa berhala maupun sesuatu yang lain selain berhala. Sementara itu, nafsu tidak disembah oleh mereka dan tidak dikenal bahwa

mereka menjadikannya tuhan-tuhan selain Allah. Namun, tafsir ini mungkin ada benarnya. Berikut ini adalah penjelasannya. Sahl Al-Tustari>, ketika berbicara tentang ayat itu, menyebutkan bahwa hal itu adalah tafsir ayat. Tetapi ia menyebutkan makna lain yang berarti sekutu dalam sudut pandang yang sesuai dengan syariat. Itu karena hakikat sekutu (nadd) adalah bahwa lawan sekutu adalah menurut lawannya. Nafsu ammārah termasuk dalam kategori ini, karena ia memerintahkan pemiliknya untuk memenuhi kesenangannya seraya lalai dalam memenuhi hak-hak Penciptanya. Inilah makna “sekutu” terhadap sekutunya, karena berhala diartikan oleh mereka dalam pengertian ini. Berdasarkan hal ini, tidak ada cela dalam ucapan al-Tustari> tentang ayat tersebut. Adapun ayat yang mendukung argumen ini adalah firman Allah Swt., “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (Q.S. al-Taubah [9]: 31). Jelas, mereka tidak menyembah rahib/pendeta selain Allah secara fisik. Namun, mereka menuruti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Apa yang dia haramkan bagi mereka, mereka juga mengharamkannya, dan apa yang dia halalkan, mereka juga menghalalkannya, padahal mereka berkeyakinan bahwa yang berhak untuk menetapkan halal dan haram hanyalah Allah. Oleh karena itu, Allah Swt. berfirman, “mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah”. Inilah keadaan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Dalam penafsiran ini, al-Syathibi dalam al-Muwafaqāt-nya juga dapat menerimanya23, karena sudah sesuai dengan syarat-syarat penafsiran sufistik yang bisa diterima yaitu asal kemunculannya adalah dari Al-Qur’an dan diikuti oleh maujud-maujud yang lain. Sebab, pemahaman yang benar pada umumnya adalah jika cahaya pandangan batin membakar tabir segala entitas tanpa henti. Bukan sebaliknya, yang asal kemunculannya dari segala maujud, baik parsial maupun universal, dan diikuti pemahaman terhadap AlQur’an. Dan juga, memenuhi dua syarat: (1) memenuhi tuntutan kaidah-kaidah bahasa Arab sehingga berlaku menurut maksudmaksud yang dikehendaki dalam bahasa Arab, (2) didukung dengan

suatu teks atau makna lahiriah di tempat lain yang menguatkan kebenarannya

D.3. Q.S. al-A’raf ayat 148 
pada surat al-A’raf ayat 148. 
ﯔ ﯓ ﮱ ﮰ ﮯ ﮮ ﮭ ﮬ ﮫ “
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung T}ur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak sapi yang bertubuh dan bersuara.” Dalam penafsirannya, al-Tustari> menta’wi>l kan “anak sapi” adalah apa saja yang memalingkan manusia dari Allah swt, mungkin sanak saudara ataupun anak, yang manusia tidak bisa lepas darinya kecuali setelah hilangnya keuntungan-keuntungan yang merupakan sebab terikatnya manusia kepada “anak sapi” tersebut. Sebagaimana umat nabi Musa tidak bisa melepaskan diri dari penyembahan terhadap anak sapi kecuali dengan membunuh diri mereka sendiri

Sifat sejarah, menurut orang, 
Ibarat pentas bermain wayang
Cheritera lampau dihurai dalang
Pabila tammat segera diulang
Al-‘Adad, al-Ma’dud

HIKAYAT

Aku Qur’an tujuh Masani,
Aku Roh pusat Rohani, 
Hatiku kutitip kepada insani,
Kepadanya kuberikan lidahku ini.

Engkau tak dapat melihat tubuhku, 
Hanya merasa kan sebagai ni’mait ku, 
Jika kau selami lautan zatku,
Keajaiban tampak serta berlaku.

Rahasia \terbuka sesudah terlindung,
Arwah ma’ani menjadi mendung,
Siapa yang paham arti terkandung,
Ta’ takut pedang datang menyandung

Laksana Hallaj Syamsul hakikat,
Mahabbah mendalam serta melekat,
Lahirlah “Ana al-haq” secara singkat, 
Tidak berubah zat dan sifat

Zatku Satu Sipatku 
banyak, sujud kepadaku, 
jika engkau menghendaki asma,
ketahuilah bahwa nama itu
menunjukkan yang diberi asma,
yaitu zat yang dinamakan kul padamu, 
sujud dengan apa yang dapat memadai, buang apa yang tidak perlu”

 (Kitabul isra’, HaydrabadDeccan, 1948, hal. 8-9). Kemudian menyusul serangkaia

rafiquh a’la
syair, pemahaman wihdatul wujud. menceritra kan isra’, 
bahwa salik itu tidak dapat melihat zat cuma sifatnya, ia tidur, 
datang kepadanya rasul taufiq yang akan menunjukkan dia thariq, 
ada buraq ikhlas, dibuka dadanya dengan pisau sakinah, 
dikeluarkan isinya dan diletakkan kedalam ember ridha, 
dibersihkan dari pada syaithan, düsi dengan tauhid, {man tafrid, kemudian dijahit kembali dengan kesehatan uns yang suci, 
dibungkus dengan kain mahabbah, diangkat keatas pelana buraqqurbah, lalu diisra’kan ke-qudsul janan, 
diikat buraq didepan pintu, sembahyang dekat mihrab, memilih minuman susu dari pada khamar, lalu mi’rajlah kelautan mutiara, lautan nafsul mutma’innah yang luas dengan sampai arifin, 
yang layarnya ditiupi angin ziK.r, digerakkan oleh gelombang ahwal, sampai yang bertiang alif, 
bertatahkan alat bismitahi majha dan wahyu pertama iqra’, 
sampai kelautan mujahadah dengan pertolongan arwah inayah, 
terdampar kepantai musyahadah, dan dari sini berpisahlah dengan air dan bertemulah dengan langit. Kemudian ia lalu menceriterakan pula pengalamannya, 
pertama dalam langit wizarah dengan Adam dan segala hikmahnya, dalam langit kitabah dengan Isa dan segala akhlaknya, naik kelangit syahadah, dimana ia bertemu dengan Jusuf dan segala riwayat kesukarannya, 
lalu kelangit imarah, bertemu dengan Idris, kelangit syarthah, bertemu dengan Musa yang makin mendekat kepada hakikat tauhid, 
kelangit bhayah bertemu dengan Ibrahim, dan maqam wilayah yang dicari dari sini melayang ke sidratul muntaha, bertemu dengan nurwllah, dimana diberikan jawamïulkalam 
bermacam2 dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan, dari sini sampai ke-hadratul kursi dan mauqiful qudsi dengan segala keanehan dan rahasia, dari situ terbanglah ke dan sampailah dimedan rasul2 yang di-cita2kan. 
Maka disini dilakukan munajat, yang satu persatu oleh Ibn Arabi diperincikan dalam kupasan tasawwuf, dan pada akhirnya sampailah kepada mengupas yang dinamakan Isyarat Adamiyah, 
isyarat Musawiyah, isyarat Ibrahimiyah, isyarat Yusufiyah, dan akhirnya sampailah salik yg mencari itu kepada isyarat Muhammadiyah, yang tidak berbicara karena hawa nafsu, yang bertanya, 
siapa engkau dan menjawab siap aku sehingga akhirnya berhasillah kerajaan dengan tahmid, agar sah tauhid

Siapa berupa rumah yang Haq, 
Yang Haq itu adalah rumdhnya, 
Inti wujud adalah Haq, 
Adalah inti segala alamnya

Jika kami lahir ternyata, 
Dalam sesuatu yang buka kita, 
Tak kan ada segala semesta, 
Jika kami tidak mencipta. 

Engkau yang benar ‘
aïnul wujud, 
Tak ada yang lain dapat disebut, Karena itu aku ma’bud, 
Aku Tuhan ghaib terlïput. 

Hambaku jangan engkau katakan, 
Bahwa engkau aku seakan, 
Aku kenal/ dalam gerakan, 
Engkau fana berantdkan. 

Tiap saat, 
setiap masa, 
Kejadian baru senanttasa, 
Bersifat fana hancur binasa, 
Aku yang kekal maha Kuasa

Dalam wujud tak ada selainnya, 
Fikirkanlah sebagai memïkirkannya,
Pasti engkau memahaminya, 
Dia itu tak lain dari dianya. 

Orang yang mengatakan demikian itu, 
Silang sengketa dengan sekutu, 
Dalam hatinya pasti tentu, 
Terdapat contoh satu persatu.

jikalau dia tidak terdapat, 
Maka tidak melihat tepat, 
Jikalau dia tidak terdapat, 
Dzikir tak ada bibirpun rapat. 

Berikan olehmu pertimbangan, 
Engkau adam tak ada imbangan, 
Yang ada wujud, bukan bayangan, 
Dialah yang ada seluruh kayangan. 

Demi Allah ‘jika tiada, 
wujud yang Haq tidak berada, •
Firmannya llenyap di mayapada, 
Wujud alam juga tak ada

HIKAYAT

Aku Qur’an tujuh Masani,
Aku Roh pusat Rohani, 
Hatiku kutitip kepada insani,
Kepadanya kuberikan lidahku ini.

Engkau tak dapat melihat tubuhku, 
Hanya merasa kan sebagai ni’mait ku, 
Jika kau selami lautan zatku,
Keajaiban tampak serta berlaku.

Rahasia \terbuka sesudah terlindung,
Arwah ma’ani menjadi mendung,
Siapa yang paham arti terkandung,
Ta’ takut pedang datang menyandung

Laksana Hallaj Syamsul hakikat,
Mahabbah mendalam serta melekat,
Lahirlah “Ana al-haq” secara singkat, 
Tidak berubah zat dan sifat

Zatku Satu Sipatku 
banyak, sujud kepadaku, 
jika engkau menghendaki asma,
ketahuilah bahwa nama itu
menunjukkan yang diberi asma,
yaitu zat yang dinamakan kul padamu, 
sujud dengan apa yang dapat memadai, buang apa yang tidak perlu”
 (Kitabul isra’, HaydrabadDeccan, 1948, hal. 8-9). Kemudian menyusul serangkaia
rafiquh a’la
syair, pemahaman wihdatul wujud. menceritra kan isra’, 
bahwa salik itu tidak dapat melihat zat cuma sifatnya, ia tidur, 
datang kepadanya rasul taufiq yang akan menunjukkan dia thariq, 
ada buraq ikhlas, dibuka dadanya dengan pisau sakinah, 
dikeluarkan isinya dan diletakkan kedalam ember ridha, 
dibersihkan dari pada syaithan, düsi dengan tauhid, {man tafrid, kemudian dijahit kembali dengan kesehatan uns yang suci, 
dibungkus dengan kain mahabbah, diangkat keatas pelana buraqqurbah, lalu diisra’kan ke-qudsul janan, 
diikat buraq didepan pintu, sembahyang dekat mihrab, memilih minuman susu dari pada khamar, lalu mi’rajlah kelautan mutiara, lautan nafsul mutma’innah yang luas dengan sampai arifin, 
yang layarnya ditiupi angin ziK.r, digerakkan oleh gelombang ahwal, sampai yang bertiang alif, 
bertatahkan alat bismitahi majha dan wahyu pertama iqra’, 
sampai kelautan mujahadah dengan pertolongan arwah inayah, 
terdampar kepantai musyahadah, dan dari sini berpisahlah dengan air dan bertemulah dengan langit. Kemudian ia lalu menceriterakan pula pengalamannya, 

pertama dalam langit wizarah dengan Adam dan segala hikmahnya, dalam langit kitabah dengan Isa dan segala akhlaknya, naik kelangit syahadah, dimana ia bertemu dengan Jusuf dan segala riwayat kesukarannya, 

lalu kelangit imarah, bertemu dengan Idris, kelangit syarthah, bertemu dengan Musa yang makin mendekat kepada hakikat tauhid, 

kelangit bhayah bertemu dengan Ibrahim, dan maqam wilayah yang dicari dari sini melayang ke sidratul muntaha, bertemu dengan nurwllah, dimana diberikan jawamïulkalam 
bermacam2 dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan, dari sini sampai ke-hadratul kursi dan mauqiful qudsi dengan segala keanehan dan rahasia, dari situ terbanglah ke dan sampailah dimedan rasul2 yang di-cita2kan. 
Maka disini dilakukan munajat, yang satu persatu oleh Ibn Arabi diperincikan dalam kupasan tasawwuf, dan pada akhirnya sampailah kepada mengupas yang dinamakan Isyarat Adamiyah, 
isyarat Musawiyah, isyarat Ibrahimiyah, isyarat Yusufiyah, dan akhirnya sampailah salik yg mencari itu kepada isyarat Muhammadiyah, yang tidak berbicara karena hawa nafsu, yang bertanya, 
siapa engkau dan menjawab siap aku sehingga akhirnya berhasillah kerajaan dengan tahmid, agar sah tauhid

Siapa berupa rumah yang Haq, 
Yang Haq itu adalah rumdhnya, 
Inti wujud adalah Haq, 
Adalah inti segala alamnya

Jika kami lahir ternyata, 
Dalam sesuatu yang buka kita, 
Tak kan ada segala semesta, 
Jika kami tidak mencipta. 

Engkau yang benar ‘
aïnul wujud, 
Tak ada yang lain dapat disebut, Karena itu aku ma’bud, 
Aku Tuhan ghaib terlïput. 

Hambaku jangan engkau katakan, 
Bahwa engkau aku seakan, 
Aku kenal/ dalam gerakan, 
Engkau fana berantdkan. 

Tiap saat, 
setiap masa, 
Kejadian baru senanttasa, 
Bersifat fana hancur binasa, 
Aku yang kekal maha Kuasa

Dalam wujud tak ada selainnya, 
Fikirkanlah sebagai memïkirkannya,
Pasti engkau memahaminya, 
Dia itu tak lain dari dianya. 

Orang yang mengatakan demikian itu, 
Silang sengketa dengan sekutu, 
Dalam hatinya pasti tentu, 
Terdapat contoh satu persatu.

jikalau dia tidak terdapat, 
Maka tidak melihat tepat, 
Jikalau dia tidak terdapat, 
Dzikir tak ada bibirpun rapat. 

Berikan olehmu pertimbangan, 
Engkau adam tak ada imbangan, 
Yang ada wujud, bukan bayangan, 
Dialah yang ada seluruh kayangan. 

Demi Allah ‘jika tiada, 
wujud yang Haq tidak berada, •
Firmannya llenyap di mayapada, 
Wujud alam juga tak ada

​ 

“HAKIKAT BESMAH DAN DIWETIGE”

(Alif) = diri sendiri (Zat)
(Allah) = diri terdiri (Sifat)
(Bismillah) = diri tajjali (Asma)
(Ha) = diri terperi (Af’al)
(Alif) = Zat (Diri Sendiri)
(Alif, Lam, lam Ha) = Sifat (Diri Terdiri)
(Alif, Ba, Sin, Mim, {Alif, Lam, Lam) Ha = Asma (Diri Tajjali)
(Alif, Ba, Sin, Mim Ha) = Af’al (Diri Terperi) Besmah
(Alif, Lam, Lam) = Rohani bagi Besmah
(Ha) atau Hajarul Aswad adalah sebagai wadah untuk menyatakan kenyataan

Kupasan Umum :
Alif adalah simbol ketika Zat yang Maha masih Sendiri dengan Zatnya, kemudian Dia menciptakan mahluk untuk mengenalNYA sehingga ada sebutan ALLAH dan juga menunjukan Sifat-sifatNYA. Kemudian sifat-sifat itu mengungkapkan nama dan keberadaanNYA. Sifat dan keberadaan ini kemudian dinyatakan dalam perbuatanNYA.

Kaitan asal nama Besmah.
Alif adalah menyatakan asal muasal kejadian tanah besmah yang berasal dari kenyataan Qudrat dan Iradat dari Sang Maha Kuasa sebagai sumber segala sesuatu.

Alif Lam Lam Ha menyatakan kehendak dan Hukum-hukum Allah (Qudrat dan Iradat) adalah sebagai jalan untuk mengenal dan mengetahui asal muasal kejadian dan tempat kembalinya segala sesuatu.

Alif Ba Sin Mim (Alif Lam Lam) Ha adalah wadah yang menunjukkan dan menyatakan kebenaran-kebenaran hukum-hukum Allah sebagai Qudrat dan Iradat yang dijembatani oleh Orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan menyatakan kebenaran dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan dan Hadits Qudsi.

Alif Ba Sin Mim Ha Menunjukkan kenyataan Nama yang menyatakan kebenaran hukum-hukum Allah dalam Qudrat dan Iradat dengan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Alif Lam Lam adalah menyatakan Kenyataan Qudrat dan Iradat Allah pada orang-orang yang menjembatani untuk menyatakan kebenaran dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Ha. Adalah kenyataan tempat menyatakan kebesaran dari kenyataan Qudrat dan Iradat dan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi.

Alif Ba Sin Min Ha adalah huruf yang yang menjadi bacaan dan sebab timbulnya nama Besmah, Arti dari Besmah adalah suatu daerah yang mempunyai Nama (ber-Asma)

Alif, lam, lam mengghaibkan diri menjadi Ruhani bagi besmah menaungi dan akan menunjukkan kenyataan dari Besmah kepada orang-orang yang dijembatani untuk menyatakan kenyataan Firman (Al-Qur’an) dan Hadits Qudsi. Alif lam lam inilah dalam keberadaan nya di tanah Besmah disimbolkan dan disebut Diwe Tige.

Inilah hakikat asal muasal nama Besmah dan kenyataan Diwe Tige dalam Khazanah tanah besmah.

Seperti bacaan pada Bismillah maka bacaan Ba Sin Mim Dan Ha dibaca Besmah (Bismi) dan bukan Besemah (Bisimi).

DIWE TIGE
Yang disebut Diwe Tige dalam Khazanah besmah sebagi pengejawantahan simbol Alif Lam Lam adalah :

1.Semidang Gumay
Bernama Ali Arhan dan bergelar Semidang Gumay. Berawal dari Kitab yang Awal (Taurat) yang kemudian menuntut peng-awalan tersebut maka Semidang Gumay menindak lanjuti keyakinan tersebut hingga ke Besmah Sakti. Hukum Syariat yang ada disebutkan dalam Al-Quran adalah dari Bapak Segala Umat (Nabi Ibrahim As), Hukum Hakikat yang ditemukan beliau sebagai Wali ke satu (yang pertama) di zaman Iman Tauhid Makrifat (dengan Kehendak Allah sendiri melalui Tajridul Qulbi Hidayatullah) dengan candi (tanda) 50 kalimah tauhid (berlambangkan rantai 50 leku)
Sesuai dengan lambang :
a.Sebuah pusake yang beradaptasi kepada laa ilaha ilallah (syahadat kalimat tauhid) hukumnyasyuhudul wahda fi wahda (Dari Yang Satu kembali kepada Yang Satu
b.Rantai daripada terjemah Allah yang berbicara sejuta bahasa (sejuta makna)
c.Rantai ketiga berjumlah 74 buku bermaknakan “Diantara 73 kaum hanya satu yang sekedudukan dengan aku (kamu) inilah makna dari Qudrat itu sendiri. Qudrat artinye kuase/berkehendak. Inilah Lam pertama, Dinyatakan sebagai Al Haqq (Kebenaran)

2.Atung Bungsu
Bernama Syech Nurdin dan bergelar Atung Bungsu. Berdasarkan dari Kitab Al- Qur’an dengan kata penyempurna 16 Qoidul Iman berlambangkan satu hukumnya dua dan dua hukumnya satu, yaitu hukum syar’i dan hukum hakikat untuk menyatakan kebesaranNYA.

Wali kesatu dihukum syar-i dikenal sebagai walikutub dan wali kesatu dihukum hakikat adalah sebagai pewaris.
Dengan lambang :

Dua Alif disatukan ke-akbaran-nya

sebilah keris bermate due :

satu lanang dengan lafaz kalimah laa ilaha ilallah (syahadat tauhid)

satu perempuan dengan lafaz kalimah muhammad rasulullah (syahadat rasul)

itulah Lam kedue. Tatkala Lam kesatu berkehendak, Lam kedue menyatakannye (Al Akbar)

3.Semidang sakti
Bernama Ahmad Furqon bergelar Semidang Sakti. Dari kitab yang kedue (Zabur). Di hukum syariat diwarisi oleh Semidang sakti dengan nama Al Mukmin dan dihukum hakikat Rajenyawe dengan simbol Ruhil qudus/ Batu Lancang Putih.
Berlambangkan :

Sebilah keris kumbang tutup. Sebagai kenyataan dua (2) hukumnya satu (1)

Hitam sebagai tanda kegigihan

Putih sebagai tanda kesucian.

Tatkala kedua lambang tersebut menyatu, inilah yang bernama/disebut lancang putih (Rohil Qudus)

Tafsir Hitam : Gigih mencari tau dengan keberanian untuk menggapai Rohil Qudus tersebut.

Artinya : Roh Jasmani berbadan kepada Rohani, Rohani berbadan kepada Rohil Qudus, Rohil qudus berbadan kepada Nur Muhammad. Di dalamnya berduduk yang Qodim disaksikan oleh Zat Allah, Sifat Allah, Asma Allah Tentang yang Qodim itu sendiri, dengan bunyinya : satu hukumnya dua deangan kata awalan kesatu :

Zat hilang dalam Nur *———>

Zat Nur hilang dalan Sifat *———>disebut alam kudus (alif lam roh)

Sifat hilang dalam Asma *———>

Maka timbulah Perbuatan

Pengejawantahan 3 batu betangkup di tebat besak (pantai) Alif Lam Mim dalam air, bila telah melalui perjalanan sesuai ketentuan Allah melalui Hajarul Aswad barulah nyata kebesaranNYA.

Alif Lam Roh pada yang Qodim, ALif Lam Mim pada yang baharu baru nyata kenyataan melaluihajarul aswad (HA)

Inilah yang disebut Diwe Tige yaitu Semidang Gumay, Atung Bungsu dan Semidang Sakti atau Al Haqq, Al Akbar dan Al Mukmin.

Peradaban tiga (3) hukumnya satu (1), satu (1) hukum nya tiga (3) adalah Untuk menyatakan kesatuan Al Akbar, Al Haqq dan Al Mukmin berlambangkan 50 kaidul iman (Kalimah Tauhid) dan 16 Kaidah Rasul (Kalimah Rasul) yang dinyatakan dengan Dua Kalimah Syahadat.

Nama Al Haqq, Al Akbar dan AL Mukmin. adalah nama-nama yang tercantum di dalam Asmaul Husna (Nama-nama Allah Yang Indah). Nama-nama tersebut melekat pada mereka yang disebut Diwe Tige di tanah Besmah bukanlah dengan maksud menyatakan mereka sebagai Tuhan (Nauzubillahi min zalik), namun mereka adalah Orang-orang yang diamanati oleh Allah untuk menjaga Nama-nama Allah atas kehendak dan ketentuan Allah sendiri. Sesuai dengan sebutan mereka di besmah Puyang

Pu dari mpu = orang yang Ahlinya

Hyang = Yang Maha (Tuhan)

Puyang = mpuhyang = orang yang ahli ketuhanan (Ahli Ketuhanan)=

ARRAHMAN DAN ARRAHIM

Arrahman
Arrahman adalah kenyatataan diri penyampai. Dalam makna di Besmah adalah Penyampai rahasia Zat Allah ta’ala yang dalam hal ini adalah roh yang dimakbulkan permintaannya untuk nyata kedunia setelah dari zat yang mewujudkan RohilQudus. Lingkup Arrahman ini ada pada laki-laki.

Arrahim
Arrahim adalah diri yang menampung rahasia zat Allah yang disampaikan Arrahman (Rohil Kuddus) dan memberi tahta di tempat yang telah ditentukan oleh Zat hingga masa mengeluarkan rahasia Zat (Roh) menjadi Nyata (berjasad) Lingkup Arrahim ini ada pada diri perempuan (Arrahim). Namun Adapula kejadian yang dengan atas kehendak Yang Maha Kuasa (Allah Ta’ala) maka Rohilqudus ini langsung ditiupkan kedalam Arrahim.

Dari pemahaman tentang kenyataan penyampai dan penampung (Arrahman Dan Arrahim) rahasia zat Allah inilah yang menjadi jalan untuk menyatakan rahasia zat Allah (Alif lam lam ha) dan kenyataan kebesaran itu (Alif Kaf Ba Roh = Akbar). Munculnya kenyataan kebesaran (Al Akbar) inilah yang dinyatakan dengan Sakti di tanah Besmah. Sehingga sesuatu itu dikatakan sakti adalah apabila berkata ada bukti dan kenyataaannya. Sehingga bila digandengkan dengan nama besmah sakti adalah Suatu tempat yang dengan kenyataan Asma ang menjadi wadah bila mana berkata haruslah ada bukti dan kenyataannya. Namun besmah sakti tidak akan ada tanpa pengenalan akan yang disebut diwe tige sebagai ruhani dari besmah yang menjadikan besmah menjadi sakti. Susunannya adalahbesma(diwetige)h sakti yang bila diharfiahkan bacaannya suatu tempat yang atas asmaNya dan orang-orang yang menjembatani untuk menyatakan kebenaran dan kenyataan firman dan haditsyang bilamana berkata ada bukti dan kenyataannya.

Ketika kesatuan itu diringkas dalam bentuk huruf maka bunyinya adalah Bismillahirahmannirahimm.Demikianlah kenyataan dan pengejawantahan dari besmah sakti dan diwetige.

Besmah Sakti adalah kenyataan dari Ama dan Af’al

Diwe Tige adalah kenyataan dari Zat dan Sifat

Perlambangan kenyataan Besmah sakti dan Diwe Tige ini adalah pernyataan Tanah Besmah akan dua Kalimah Syahadat, yaitu :

Besmah Sakti adalah perlambangan dari Muhammadarasulullah

Diwe Tige adalah perlambangan dari Laa ila ha ilallah

Besmah sakti disimbolkan dengan tongkat, yaitu sebagai sarana untuk berjalan menuju jalan yang lurus dan diwe tige disimbolkan kepada rantai 50 leku (kesatuan dari 50 Aqoidul Iman) Pengungkapan kenyataan besmah sakti dan diwe tige adalah pengungkapan kenyataan Bismillahirahmannirahimm sehingga nyatalah Alif Lam Lam Ha Allif Kaf Ba Roh (AllahuAkbar).

Kenyataan Besmah Sakti dan Diwe tige yang merupakan penggambaran dari pembuktian kenyataan hukum-hukum Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits inilah yang menaungi kenyataan tanah nusantara umumnya dan tanah besmah umumnya. Wilayah Tanah Besmah adalah Tanah yang dinaungi oleh Lampik Empat Merdike Due (Akan dibahas nantinya), sedang wilayah dari yang disebut Besmah Sakti adalah seluruh wilayah yang dinaungi oleh hukum-hukum Allah dengan kenyataannya.Pertanyaanya, Dimanakah di dunia ini wilayah yang tidak dinaungi oleh hukum-hukum Allah dan kenyataannya? Jawabnya adalah TIDAK ADA.
Alif Lam Lam Ha : Adalah Kenyatan tenyang kenyataan diri terdiri yang menyatakan kehendak dan hukum-hukum Allah (Qudrat dan Iradat) sebagai jalan dan wadah untuk mengenal dan mengetahui asal muasal kejadian dan tempat kembalinya segala sesuatu.

Alif Kaf Ba Roh : Adalah kenyataan Alif Lam Lam Ha menyatakan zat dan sifatnya (Qudrat dan Iradat) dengan jalan asma (rohilqudus) kepada yang baharu (af’al) dan Kenyataannya. Atau kenyataan jalal, jamal, kamal dan kohar melalui ruh yang siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Tinjauan Sejarah :
Ketika penyatuan awal akan kenyataan dari Besmah Sakti dan Diwe Tige (Bismillahirahmannirahimm) menyatakan kenyataan AllahuAkbar adalah kejadian silam/ sirnanya dua kerajaan yang besar di nusantara yaitu kerajan Sriwijaya dan kerajaan Padjajaran. Penyilaman ini bukan hanya dengan maksud menghilangkan kedua kerajaan besar tersebut, akan tetapi dengan suatu rencana pengungkapan kenyataan kebesaran dan kemahaan Alah Ta’ala yang memang tealah termaktub dalam janji Allah tentang yang menyatakan kebenaran Firman dan Hikmah yang tertulis (Al-qur’an dan Hadits) dan kenyataannya di tanah besmah pada khususnya dan Besmah Sakti pada umumnya.

Kenyataan penyilaman ini akan diungkap dan dibuktikan kenyatannya sesuai dengan kata di besmah : ade kan tiade, tiade kan ade ( ada menjadi tiada, tiada kan menjadi ada). Kapankah saat itu ?

Saatnya adalah ketika kenyataan besmah sakti dan diwe tige diungkapkan atas kehendak Allah sendiri melalui orang yang di beri petunjuk maka saat itulah ALLAHUAKBAR.

Kenyataan Arrahman dan Arrahim sebagai penyampai dan penampung rahasia dari zat Allah sehingga menyatakan Allahuakbar ini ditana Besmah dikenal atau dinyatakan dengan :
Arrahman
dinyatakan sebagai akhiran kewalian dari Almukmin disimbolkan sebagai bungsu dari Puyang Awak yang berduduk di telaga Alkautsar yang menghimpun Ghumbak tige serumpun (Rambut tiga serumpun). Yang dimaksud dengan Ghumbak tige serumpun inil adalah kenyatan tempat keluar masuknya Zat, Sifat dan Asma pad Af’al. Atau dengan istilah Besmah Cugung Empu Luang Sembilan. Kenyataan itu adalah Manusia dengan ubun-ubun diatasnya (cugung Empu) dan sembilan lubang ditubuhnya (luang sembilan). Pengenalan tentang jalan masuk dan jalan keluar inilah yang disebut dengan Titik Ba yang dalam hikayat walisongo di cari oleh Sunan Kalijaga untuk mendapatkan Makrifatullah. Dimanakah Rahasia titik Ba itu? tanyakan kepada Penjaga air Fatih yang bermuara di telaga Al-Kautsar. Siapakah penjaga air Fatih yang di besmah disebut ayek Fateh ?

Beliau bernama Kriye Bungsu, pengikut Setia dari Puyang Diwe Atung Bungsu. Kriye Bungsu ini di tanah jawa dikenal dengan sebutan Syech Malaya.

Arrahim
Dinyatakan dengan simbol wanita yang menguasai lautan. Karena laut adalah tempat penampungan terbesar dari aliran air, semua aliran air pastilah bermuara dilautan. Dikenal dengan sebutan Ratu Laut, yang bertugas menampung dan mengeluarkan (melahirkan) kenyataan itu. Di tanah Besmah laut disimbolkan dengn nama Tebat besak dan dinamakan Laut Alam Danau Bhiute dan biasa di sebut Pantai. Ratu Laut inilah yang di tanah jawa Disebut Ratu Kidul.

Kenyataan Rahman dan Arrahim sebagai pengejawantahan nama yang menunjukan sifat inilah yang akan menunjukkan Akbar atau melahirkan Kebesaran yang dalam tatanan ilmu Ketuhanan disebut sebagai Insan kamil. Jadi yang mendapat bimbingan dari perpaduan Arrahman (Kriye Bungsu/Syech Malaya) dan Arrahim (Ratu Laut/Ratu Kidul) akan menghasilakn kenyataan tentang Kebesaran atau dengan kata lain :

Bimbingan dari ilmu kenyataan Allah pada para Rasul dan Nabi disebut Wahyu atau ilham pada era setelah Muhammad SAW. Sementara kebesaran dinyatakan dengan perlambangan mahkota. Inilah yang disebut dengan istilah Wahyu Mahkota.

Pemegegang Wahyu Mahkota ini mengemban amanah menyatakan kenyatan dan kebesaran Allah (Allahuakbar) di muka bumi ini. Dengan berkalungkan Rantai 50 Leku sebagai tanda memahami ketauhidan dan Berjalan di jalan yang lurus dengan Tongkat sebagai tanda Kaidah Kerasulan. Hingga sampailah kepada kenyataan Semua berasal dari Allah dan kembali kepada Allah.

Itulah kenyataan tentang apa yang Disebut dengan besmah Sakti dan Diwe tige sehingga tidak boleh dipisahkan, bermula dari zaman 4000sm hingga sekarang ini. Berawal dari Taurat, kemudian Zabur yang disempurnakan dengan Al-Qur’an.

Kenyataan ini hanya bisa diungkapkan dan dinyatakan oleh mereka yang mengetahui ilmu ketuhanan yaitu ilmu-ilmu yang Haqq dari sisi Allah atas Qudrat dan Iradat dari Allah Ta’ala sendiri dengan bimbingan dari para wali-wali Allah sendiri.

Kenyataan pengungkapan ini tidak boleh dilakukan dan diungkapkan secara sembarang melainkan harus dengan tahapan-tahapan yang ditentukan dan dikehendaki oleh mereka yang membimbing agar tidak merusak makna dan maksud yang diinginkan untuk disampaikan,Tidak diperbolehkan mendahulukan yang kemudian dan mengkemudiankan yang terdahulu. Jika itu dilakukan maka akan merusak makna dan hilanglah bacaan yang dimaksud.maka jahillah kita sebagai orang yang tidak memegang amanah.

Kenyataan Pengungkapan Ini kan menyatakan kenyataan Al-Qur’an dan Hadits yang berawal dari umul Kitab (Al-Fatihah). Kenyataan ini akan menunjukkan kesaksian dari Alam Qodim (Batu Sumpahan) hingga kenyataan keberadaan insan di muka bumi (Rajenyawe/ puyang Awak di batu Lancang Putih) hingga kenyataan masuk dan keluarnyanya zat, sifat dan asma (ghumbak tige serumpun) di ubun-ubun sebagai puncak cugung empu luang sembilan (jasad manusia.
Dan bila kita rangkaikan kalimah Bismillahirahmanirrahim dengan Allahuakbar maka itulah yang dalam tatanan Ilmu Ketuhanan Disebut Insan Kamil Mukamil (sempurna lagi disempurnakan).

Kenyataan dan tahapan-tahapan inilah yang akan bersama-sama kita ungkap dan nyatakan dengan bukti-buktinya sehingga nyatalah kebenaran itu. Sebagai awalan kita berjalan kita kalungkan rantai 50 leku (50 Aqoidul iman) dan kita pegang tongkat (16 kalimah rasul) sebagai pegangan di jalan menuju Kenyataan (Tajjali) Firman dan Hadist atau Kenyataan kebesaran Allah itu sendiri. Dengan kata lain kita nyatakan perjalanan ini dengan :

Bermula dari : Laa ilaha ilallah

Berjalan dengan : Muhammadarasulullah laa haula wala quwata ilaa billah

Berakhir dengan : Inalillahi wa ina ilaihi rojiun

Harta yang Paling berharga Warisan Turun temurun Dari Tanah SERIWIJAYA PALEMBANG DARUSALAM
Yang Tidak habis termakan waktu tidak akan hilang dari Zaman ke Zaman selalu Kokoh berdiri Tegap Allahu Akbar

Bermula dari : Laa ilaha ilallah
Berjalan dengan : Muhammadarasulullah laa haula wala quwata ilaa billah
Berakhir dengan : Inalillahi wa ina ilaihi rojiun

Aku Qur’an tujuh Masani,
Aku Roh pusat Rohani, 
Hatiku kutitip kepada insani,
Kepadanya kuberikan lidahku ini.

Laksana Hallaj Syamsul hakikat,
Mahabbah mendalam serta melekat,
Lahirlah “Ana al-haq” secara singkat, 
Tidak berubah zat dan sifat

Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…
Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak

Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah
30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..

QS. Sad
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ
qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap
“Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi”
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَآءً حَيْثُ اَصَابَ 
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya,”

وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَّغَوَّاصٍ 
wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash
“dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,”

وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِيْ الْاَصْفَادِ
wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad
“dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu.”

qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo
wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash
wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad

 Laa ilaha ilallah 

Bermula dari : Laa ilaha ilallahBerjalan dengan : Muhammadarasulullah laa haula wala quwata ilaa billah

Berakhir dengan : Inalillahi wa ina ilaihi rojiun

Aku Qur’an tujuh Masani,

Aku Roh pusat Rohani, 

Hatiku kutitip kepada insani,

Kepadanya kuberikan lidahku ini.
Laksana Hallaj Syamsul hakikat,

Mahabbah mendalam serta melekat,

Lahirlah “Ana al-haq” secara singkat, 

Tidak berubah zat dan sifat
Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…

Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….

contoh:

Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF

contoh:

Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah

30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..

QS. Sad

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap

“Dia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi”

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَآءً حَيْثُ اَصَابَ 

faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya,”
وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَّغَوَّاصٍ 

wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash

“dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,”
وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِيْ الْاَصْفَادِ

wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad

“dan (setan) yang lain yang terikat dalam belenggu.”
qoola robbighfir lii wa hab lii mulkal laa yambaghii li’ahadim mim ba’dii, innaka antalwahhaap

faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo

faskhkhornaa lahur-riiha tajrii bi’amrihii rukhooo’an haisu ashoo

wasy-syayaathiina kulla bannaaa’iw wa ghowwaash

wa aakhoriina muqorroniina fil-ashfaad

Dodi-Giri,diyakini warga Banyuasin wilaya Perairan lanjutkan Program Sekolah Gratis

Warga Perairan Yakin
Dodi-Giri Bisa Lanjutkan Program Sekolah Gratis
BANYUASIN,PETISI.CO -Diakhir masa jabatan Gubernur Sumsel Alex Noerdin, sebagian masyarakat Sumsel mulai timbul keresahan tersendiri. Pasalnya, warga khawatir program sekolah dan berobat gratis yang dipelopori Gubernur Sumsel dua periode itu akan berakhir pula.

Kekhawatiran ini muncul di kalangan masyarakat yang tinggal di daerah perairan. Misalnya saja diungkapkan Tokoh Masyarakat Desa Saleh Mukti Jalur 8 Jembatan 3 Mukti Kecamatan Air Saleh, Tugiyo. Ia mengungkapkan, masyarakat Kecamatan Air Saleh sebelumnya sangat khawatir kalau program sekolah dan berobat gratis akan terhenti pasca kepemimpinan Alex Noerdin.
“Visi dan misi pak Dodi-Giri akhirnya menjawab keresahan kami selama ini, setelah beliau menyatakan akan komitmen melanjutkan program sekolah dan berobat gratis, kami warga perairan di Banyuasin ini yakin seratus persen dengan pasangan Dodi-Giri,” ungkapnya di sela kegiatan silaturahmi bersama Cagub Sumsel nomor urut empat Dodi Reza Alex Noerdin dengan warga Desa Saleh Mukti Jalur 8 Jembatan 3 Mukti Kecamatan Air Saleh Banyuasin, Rabu (21/3).
Menurutnya, hanya paslon Dodi-Giri yang telah menyatakan untuk melanjutkan program sekolah gratis dan memaksimalkan pelayanan berobat gratis.
“Kami warga daerah perairan ini hanya meminta program sekolah dan berobat gratis ini berlanjut, dan Alhamdulillah pak Dodi punya visi dan misi itu, terlebih beliau akan melaksanakan program sekolah gratis hingga ke jenjang perguruan tinggi,” ungkap Tugiyo.
Tidak hanya Tugiyo, ungkapan keyakinan dengan visi dan misi Cagub dan Cawagub nomor urut empat Dodi Reza Alex Noerdin-Giri Ramanda Kiemas juga diungkapkan Tokoh Ulama Kecamatan Air Saleh, KH Muhtarom. Ia mengatakan, hanya paslon Dodi-Giri yang peduli dengan warga di daerah perairan.
“Keyakinan kami warga perairan sangat kuat untuk menghantarkan Dodi-Giri menjadi pemimpin Sumsel yang amanah, Dodi-Giri juga sudah mendapatkan restu dari PWNU Sumsel, nah hal inilah yang membuat kami bertambah yakin dengan paslon nomor urut empat ini,” tegasnya.
Muhtarom juga menambahkan, perhatian yang besar Dodi-Giri terhadap warga perairan juga dapat terlihat dari visi dan misi Dodi-Giri yang akan merealisasikan pemasangan jaringan internet ke kawasan pelosok khususnya ke daerah Perairan di Banyuasin.
“Program ini nantinya dapat memudahkan kami warga perairan untuk mendapatkan informasi dan menjadi program yang mencerdaskan anak-anak kami,” tuturnya.
Calon Gubernur Sumsel nomor urut empat Dodi Reza Alex Noerdin menegaskan dihadapan ratusan warga Desa Saleh Mukti Jalur 8 Jembatan 3 Mukti Kecamatan Air Saleh, dirinya komitmen akan melanjutkan program sekolah dan berobat gratis.
“Dua program ini harus tetap berlanjut, Insya Allah kalau kami diberikan amanah program sekolah dan berobat gratis akan berjalan terus dan dimaksimalkan lagi,” tegasnya.
Sementara itu, usai melaksanakan kampanye dialogis ke Desa Saleh Mukti Jalur 8 Jembatan 3 Mukti Kecamatan Air Saleh, Presiden SFC ini disambut antusias oleh ribuan masyarakat di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Makarti Jaya Kecamatan Makarti jaya Banyuasin yang mengikuti rangkaian kegiatan kampanye monologis, pada kesempatan ini juga Cagub Sumsel Dodi Reza Alex Noerdin disambut oleh Tokoh Masrakat, Tokoh Agama, Tokoh Kepemudaan, dan Petinggi partai pengusung dan pendukung paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel nomor urut empat.(roni)